Saat Dinding pun Mencela (oleh : NIRMALA FAUZIA)

Maret 1, 2010

Prakata : Cerpen karya Nirmala Fauzia ini diadaptasi dari cerpen“Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah. Sudah sangat bagus. Tetapi, alangkah baiknya bila cerpen yang dikirim adalah benar-benar murni karya Nirmala sendiri.

Akhir kisah cerpen ini benar-benar penuh kejutan. Saya tak menyangka akhirnya seperti itu. Kalau kalian penasaran, silakan baca sampai tuntas. Dari cerpen ini, kalian bisa belajar bagaimana menulis cerpen yang baik.

Entahlah sudah berapa lama aku berdiri di sini. Hanya tegak menanti, memperhatikan segala tingkah laku anak-anak lelaki yang mulai beringas terbakar emosi. Pagi ini saja ada seorang bocah yang didorong keras ke badanku. Ia dipaksa menggantikan hukuman mencangkul lahan utara oleh si kepala botak itu. Kasihan, kaosnya yang sudah kedodoran tampaknya akan semakin melar sebab kerahnya dipuntir dan diangkat hingga membuat seluruh badannya—yang hanya setinggi kaca westafel—ikut terangkat. Kulit hitam kakinya yang membungkus langsung si tulang itu pun hanya bisa menjejak-jejak, meninggalkan bekas kehitaman di badanku. Ugh.. menyebalkan!! Tapi, anak berambut keriting ini sungguh malang. Ia hanya bisa mengangguk dengan tenaga yang tersisa.

“I..Iya, Bang. Bakal Yono kerjain..”, sahut si Keriting dengan lemah dan ketakutan. Ini sudah kali ketiga dia dipaksa untuk menggantikan tugas si Botak tak tahu malu itu. Tentu saja aku tahu, ia selalu melakukan tindakan tak terpuji itu di sini, di areaku, komplek kamar mandi paling pojok di lapas khusus anak lelaki ini. Kamar mandi yang terkenal jorok dan angker.

Bruk..!! Si Keriting dijatuhkan begitu saja.

“Haha.. baguslah. Ingat, jangan sampai ketahuan kalau aku menyuruhmu seperti ini. Nanti siang, jam 1. Aku tunggu kau di lahan utara. Jangan kira kau bisa berleha-leha di sini. Aku akan mengawasimu!” Si Botak pun menjauh dengan langkah yang pongah. Saat ia tiba di pintu depan, tiba-tiba ia berbalik dan berlari menuju bocah malang yang masih terduduk bersandar di badanku.

Bugh..!! Setitik darah dari hidung si Keriting menodai cat krem kusamku. Ooh.. tidak.. apa yang dia lakukan? Sungguh tak berperikemanusiaan!

“Itu agar kau selalu ingat!” Kemudian dia berjalan cepat keluar tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sekarang kulihat anak itu, sendirian, menangis. Perlahan ia mengusap hidungnya, ia pun mengernyit. Entah tulang hidungnya patah atau tidak. Sesaat ia mencoba untuk tegar, berdiri dan keluar. Namun apa daya, kedua kakinya gemetar begitu hebat hinga ia terjatuh lagi. Pengalaman seperti ini sungguh tak bagus bagi kesehatan psikis seorang anak berumur 12 tahun.

Memang tak adil. Di lapas seperti ini, berlakulah hukum rimba. Walau tak sekejam di penjara-penjara Indonesia yang lain, namun tetap saja ada orang-orang seperti si Botak yang selalu mem-bully orang lemah lainnya untuk kesenangan diri sendiri. Si Keriting pun menangis lagi.

Krieek.. terdengar suara daun pintu yang terbuka dari salah satu bilik kamar mandi. Dari balik pintu tampaklah seorang remaja jangkung yang mencoba keluar dengan perlahan-lahan.

“Yon, baek-baek aja ‘kan?” ucap si Jangkung hati-hati seraya berjalan ke arahku. Raut wajahnya seketika terkesiap saat melihat ada noda darah baru yang membekas di tubuhku. Ia segera menunduk dan memegang wajah si Keriting dengan kedua tangannya.

“Ya Allah, hidung kamu…” Dan hanya sedetik, tubuh kurus itu sudah tertarik masuk dalam dekapan si Jangkung. Anak itu merangsek maju agar lebih lekat, dan si Jangkung pun berkata, “Sudahlah, tenang saja, Yon. Aku nggak bakal nyakitin kamu kayak si botak gemblung itu. Tenang saja, Dek. Aku ‘kan sudah pernah bilang..”

Dengan ragu, ia mulai mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut keriting bocah itu. Si Jangkung tersenyum, dan ia melakukannya lagi dan lagi. Si Keriting tak melakukan apa-apa. Ia hanya membalas memegang erat tangan si Jangkung yang bebas. Hidungnya yang mulai memerah dan bengkak itu membuatnya pusing. Belum pernah seumur hidupnya ia ditinju orang dan melukai hidungnya. Tinjuan paling banter yang diterimanya hanya membuat mulutnya berdarah karena dikeroyok orang saat ia mencoba merebut tas merah seorang ibu di pasar dulu—kejahatan kriminal pertamanya, sekaligus yang menjebloskannya masuk lapas ini.

Aku tak mengerti apa yang mereka berdua lakukan. Tapi aku kenal ekspresi wajah mereka—yang jujur, aku tidak suka—saat saling berdekatan. Terang saja aku hapal, sudah berkali-kali aku melihat air muka yang tak enak seperti itu.

Aku ingat siang pada waktu itu, kurang lebih dua bulan yang lalu saat aku sedang asyik memperhatikan seekor laba-laba yang sedang memperlebar area sarangnya, tiba-tiba pintu depan kamar mandi terbuka dengan suara keras, diikuti dengan terjatuhnya seorang anak laki-laki yang berkulit sawo sangat matang yang didorong dari luar. Saking mengejutkannya, tiga ekor kecoa sampai meloncat mundur, dan seseorang yang ada di bilik kamar mandi nomor tiga di sebelah kanan dari ujung pintu juga melonjak kaget. Itu dia si Jangkung, sedang merenung. Tanpa bersuara si jangkung membuka sedikit celah pintu dan mengintip ke arah luar sana. Si Keriting tampak pucat pasi, bibirnya memutih. Ia berusaha untuk mundur menjauhi si Botak—yang saat itu masih berambut, meski cepak.

“Ampun, Bang. Saya beneran nggak tahu apa-apa. Saya masih anak baru,” rintih si Keriting.

“Hahaha.. justru itu. Makanya, kalo masih baru tuh nggak usah ngesok! Pake tuh mata! Nabrak orang seenaknya, lu kira gua tembok? Hah?!”

“Nggak, Bang. Ampun. Beneran deh, Bang. Tolong, jangan pukul saya. Abang boleh minta apa aja deh, Bang. Tapi ampuun..”

Si Botak menyeringai. Tangannya yang semula memegangi kerah kaos bocah itu dengan kuat mulai mengendur. “Hmm.. boleh juga. Oke, mulai sekarang lu harus ngegantiin gua kalo gua kena hukuman.” Si Botak pun mendorongnya ke samping.

“Minggir, gua mau lewat. Awas aja kalo lu sampai kabur. Inget itu!!” Si Botak berlalu setelah menekan kuat-kuat telunjuk jarinya ke jidat anak itu. Si pembuat masalah telah pergi. Namun, sang korban hanya bisa berdiri terpaku, menatap nanar ke arah pintu. Perlahan ia berjalan ke salah satu kran di sisi kiriku. Ia mencoba untuk mengeluarkan air dari sana, namun gagal. Maklumlah kamar mandi ini sudah tak pernah lagi dipakai kecuali kalau terpaksa. Ia pun hanya menarik napas dan jatuh terduduk kemudian bersandar di badanku.

Si Jangkung merasa iba. Saat menyaksikannya aku dapat merasakan kalau ia menahan napas agak lama saat peristiwa itu berlangsung. Ketika si Botak pergi, perlahan ia membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan mendekati si Keriting kemudian duduk di sampingnya.

“Hidup di lapas memang berat. Sudahlah, jangan kau tangisi. Tak berguna. Hadapi saja dengan lapang,” ujar si Jangkung tanpa menggurui. Nadanya begitu hangat dan bersahabat. Si Keriting hanya mengangkat kepala dan menengok padanya. Diam. Sebulir air mata kembali menetes.

“Sudah. Berhentilah menangis,” si Jangkung mengusap air mata anak itu dan tersenyum,

“Aku Ujo. Kau?” Percakapan pun berlanjut. Memang si Jangkung begitu ramah sehingga si Keriting tak lagi menangis, bahkan ia bisa tertawa. Aku dapat merasakan kehangatan di antara mereka.

Aku begitu terharu saat melihat baiknya hati si Jangkung. Untung saja masih ada di dunia ini orang yang peduli pada sesama. Kehangatan itu sungguh jarang aku rasakan. Namun, entah indera perasaku mulai tumpul atau mengapa, tapi auranya terasa berbeda saat mereka bertemu untuk keenam kalinya, ketujuh, dan seterusnya. Mereka sering bertemu di sini, tempat favorit si Jangkung, pojok lorong kamar mandi paling angker di lapas. Aku mulai menghapal polanya, tiap Jum’at seusai makan siang. Namun siang itu aku benar-benar tak menduganya.

Si Jangkung telah datang dengan sarung bekas shalat Jum’at yang masih dipakainya. Wajahnya tampak tak sabar, berulang kali ia mondar-mandir di depan bilik-bilik kamar mandi. Entah mengapa sekarang ia begitu menanti-nanti kedatangan sahabat dekatnya itu. Pintu pun terbuka.

“Yono..!!” Seketika si Jangkung berlari, memeluk tubuh kurus itu. Lama.

“Yon, kamu diapain lagi sama si Botak? Kata anak-anak, kaki kamu luka. Benar ya??” tanya si Jangkung dengan tatapan yang begitu khawatir. Tangannya mulai meraba kaki si Keriting, tapi anak itu menahannya.

“Ah, enggak kok. Itu nggak bener.”

“Jangan bohong, aku tadi lihat kamu agak pincang.” Dengan memaksa, si Jangkung benar-benar menggulung celana si Keriting ke atas dan tampaklah luka lebam kebiru-biruan di kedua tulang keringnya.

“Yono…”

“Hiks.. hiks.. Aku nggak tahu, Kak. Tahu-tahu dia datang dengan kumpulannya dan dia.. dia..” Belum sempat si Keriting menyelesaikan perkataannya, si Jangkung mendekapnya kembali.

“Sudah, jangan diceritakan lagi kalau itu membuatmu bersedih.”

Mata mereka saling bertatapan. Ada cahaya aneh di sana yang tak kukenali. Atmosfer pun berubah. Hangat namun terlarang. Mulai saat itu, aku yakin hubungan mereka bukan sekedar sahabat karib. Tidak, lebih dari itu. Jauh. Dan itu membuatku merasa mual.
Beberapa minggu kemudian, kedua orang itu kembali bertemu di bilik favorit mereka.

“Kak, besok aku udah bebas. Masa tahananku udah selesai. Tapi, tapi aku nggak benar-benar ingin keluar..”

Si Jangkung tersenyum, “Ya ampun, yakin? Tapi kamu masih muda. Masih bisa nyari pekerjaan, tapi inget, jangan jadi jambret lagi. Cari kerjaan yang halal. ‘Kan bisa jadi loper koran, tukang ngepel, atau ngejualin tahu Cak Ali, yang kamu ceritain itu lho. Lumayan ‘kan?”

“I.. iya.. tapi, aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi di luar sana. Tapi di sini… Di sini aku punya..” Belum selesai si Keriting berkata, ia sudah memeluk erat si Jangkung, “aku punya Kakak. Jangan tinggalin aku, Kak..”

Si Jangkung hanya bisa menarik napas. “Yon, untuk terakhir kalinya.” Matanya menatap tajam ke arah si Keriting. Ada api yang berkobar di sana.

Apa-apaan ini! Apa yang mereka lakukan? Oh Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia dengan akal dan naluri bejat seperti itu. Bahkan binatang sekalipun tak akan pernah mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh kaum Nabi Luth terdahulu. Hai, manusia! Sadarlah, bahwa itu hanya bisikan syetan yang sungguh menyesatkan. Tak malukah kalian saat dinding-dinding yang kau sebut benda tak bernyawa ini pun mencelamu? Sungguh mengerikan.

—000—

“Gila, lu. Anak sekecil itu lu embat juga?? Emang dasar..!!”

“Heh, tapi ‘kan gua nggak salah. Orang dianya juga mau. Daripada elu, cuma elu nya doang yang seneng, bisa nyalurin hobi mukul orang. Eh, dianya kesakitan. Makanya, kalo punya hobi tuh yang bisa bikin semua orang seneng..!!”

“Ih, ogah ya. Gua masih normal. Gini-gini cewek gua ada banyak di kampung.”

“Alah, bokis lu. Udahan ah. Yang penting perjanjian kita masih lanjut ‘kan? Biasa, lu yang milih korbannya dulu. Lu udah jago ‘kan milihnya. Pilih yang kira-kira masih lugu. Jadinya kita berdua bisa dapet bagian. Jangan kayak yang dulu tuh, cuma elu doang yang dapet, dianya malah sensi ama gua. Ya? Ntar kayak biasa, lu bawa ke pojokan sono. Oke, cuy?”

Diadaptasi dari cerpen “Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah

Hello world!

Februari 17, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

YANG PERLU DITANYAKAN (JIKA CERPENMU DIMUAT)

Februari 16, 2010

Ide tulisan ini muncul karena dalam bulan ini saya mengalami hal yang tidak menyenangkan berkaitan dengan dimuatnya cerpen dan puisi saya di media cetak.

Yang pertama, ketika sedang mengecek saldo rekening di Bank, saya baru tahu ada honor cerpen masuk dari sebuah majalah remaja. Dan, ketika saya cek majalahnya di toko buku, edisi yang memuat karya saya sudah tak beredar lagi. Alhasil, saya harus telpon ke kantor redaksi majalah itu dan menanyakan apakah bisa membeli majalahnya.

Yang kedua, saya mendapat telpon dari staf redaksi majalah yang lain, yang memberitahukan bahwa puisi saya dimuat. Dengan sigap, saya langsung bertanya dimuat di edisi ke berapa. Setelah itu, saya cari majalah tersebut di toko buku dan lagi-lagi saya kecewa karena edisi majalah yang memuat karya saya sudah tak dijual lagi. Saya pun harus membeli langsung dari kantor redaksinya. Otomatis, harganya juga lebih mahal karena dikenakan ongkos kirim.

Berdasarkan pengalaman tersebut diatas, maka saya sarankan apabila cerpen kalian dimuat maka beberapa hal yang harus ditanyakan adalah :

1. Di edisi nomor berapa cerpen itu dimuat? Ini penting, agar kalian bisa segera mencari majalah tsb tanpa harus kehabisan. Karena, kadang-kadang pihak redaksi memberitahu karya kita dimuat setelah beberapa hari majalah terbit.

2. Judul cerpen,terutama buat kalian yang sudah mengirimkan cerpen lebih dari satu ke kantor redaksi majalah yang sama.

3. Kalau ternyata, majalah yang memuat karyamu sudah tidak beredar lagi di toko buku/agen majalah, maka segera tanyakan bisakah membeli di kantor redaksinya. Berapa ongkos kirimnya? Kalau letak kantor redaksi dekat dengan rumahmu, kamu bisa langsung datang beli majalah itu. Tapi, kalau jauh..mungkin lebih baik dikirim. Lebih hemat ongkos.

4. Berapa besar honor yang akan kamu terima? Memang agak kurang sopan, tetapi
kalau kamu penasaran banget dengan jumlah honormu, ya..boleh saja nanya.

Oke, sekian tips dari saya. Semoga bermanfaat.

Seremoni Burung Gereja oleh BOBBY PRIAMBODO

Januari 20, 2010

Prakata : Cerpen kiriman dari Bobby Priambodo lumayan bagus. Hanya saja tidak ada konflik. Sebuah kisah penantian yang sia-sia tapi tak ada penjelasan kemana wanita yang ditunggu sang pria. Tapi dari sisi pemilihan kata dan alur sudah bagus.

Jam di menara kecil itu menunjukkan pukul sembilan. Masih tersisa dua jam tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Waktu yang lama, memang, tapi aku pikir ini sudah sepantasnya. Kursi taman yang kududuki ini pun terasa nyaman, sehingga tidak akan menjadi masalah yang berarti. Kursi ini tampaknya terbuat dari kayu jati yang kokoh, tak tergoyahkan. Akankah tekadku bersifat serupa?

Aku melihat sekeliling.
Taman ini sungguh sepi. Sunyi, hanya terlihat seorang pedagang roti yang mengayuh sepeda yang tersambung pada gerobak rotinya, bersimbah keringat. Padahal hari itu tidak terlalu panas. Saat hendak melewatiku, tukang roti itu tersenyum padaku. Senyum yang memberi semangat. Entah senyum apa itu.

Mataku tertuju kembali pada menara jam tadi. Masih dua jam lima belas menit lagi waktu yang ada. Waktu terasa berjalan begitu lama. Semenit bagaikan dua puluh tahun; tahun-tahun yang menyedihkan. Berapa kali sudah waktu berhasil membohongiku, memperdayaiku? Ratusan, ribuan kali bahkan.

Seperti pada malam itu. Malam dimana ia bilang ia akan membawaku ke teater tempat dipentaskannya drama oleh temanku. Tetapi malam itu ia tak datang.

Sepele? Mungkin. Rasakan hal itu dan lihat apa kata sepele masih bisa keluar. Setelah merasakan penyesalan itu. Setelah merasakan kekecewaan itu. Bukan, sepele bukanlah kata yang tepat. Terutama setelah melihat api meredup dimatanya; perubahan yang menandakan tenggelamnya perahu kepercayaan. Menara menunjukkan tinggal dua jam lagi.

Seekor burung gereja hinggap di lenganku. Paruhnya mematuk-matuk kaus tangan berwarna belang hitam-putihku yang aku kenakan di kedua belah tangan, melahap rempah-rempah kue yang tampaknya terselip di sela bulu-bulunya ketika aku makan kue itu pagi tadi. Aku hanya menatapnya diam, berusaha tak menggerakkan lenganku yang mungkin akan membuatnya takut dan terbang. Aku tak ingin ia pergi. Burung itu masih mematuki kaus tanganku. Ya, kaus tangan ini. Kaus tangan berwarna belang yang dulu kau berikan ini terasa begitu hangat di tanganku. Kaus tangan yang kau bilang dulu kau beli dari honor menyanyimu yang pertama ini telah aku rawat dengan baik, dan kini aku pakai lagi demi pertemuan penting ini—atau, setidaknya menurutku. Aku tak tahu apa kata itu berarti sesuatu untukmu.

Aku bangkit dari kursi taman itu dan berjalan mengelilinginya, sekadar melemaskan kaki. Udara belahan bumi yang menjelang siang itu sangat menyegarkan—dan disaat bersamaan, menyakitkan. Tubuhku gemetar. Aku kembali duduk.

Tak lama, seorang gadis kecil menghampiriku. Ia menawarkan permennya padaku. Aku menatapnya sejenak dan berkata, “Helen?”
Gadis itu berkata ia tak kenal orang yang aku sebut.

Aku menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin aku bisa keliru? Ia tentu saja bukan Helen. Helen telah lama pergi, tak mungkin tiba-tiba ia muncul begitu saja di sini, di taman yang mungkin belum pernah ia injak sama sekali. Aku merasakan jantungku berdegup. Kepergian ke Ohio itu terasa sudah lama sekali. Ya, sangat lama.

“Kakak?”

Aku menengok. Gadis itu menjulurkan tangannya yang menggenggam sebuah permen berwarna kuning-lemon kepadaku. Aku tersenyum dan menerimanya. Gadis itu tertawa dan mengambil tempat di kursi taman itu untuk duduk, tepat di sebelahku. Ia mulai bercerita panjang lebar tentang hidupnya. Dimana ia tinggal, tentang kedua orang tuanya, tentang sekolahnya, teman-temannya. Aku mendengarkan tanpa sedikitpun berniat untuk memotong pembicaraannya. Ia terus bercerita selama hampir setengah jam. Tanpa merasa lelah, dan wajahnya selalu memancarkan sinar penuh keceriaan dan harapan. Waktu di menara jam di tengah taman itu menunjukkan pukul sepuluh ketika aku sadar bahwa aku rindu Helen. Ya, gadis kecil yang lahir dari rahim sama denganku, yang juga telah merasakan pahitnya hidup ketika kami masih bersama dulu. Bagaimana kabarnya ya, sekarang? Apakah ia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa? Apakah ia telah menemukan pasangan hidupnya? Aku ingat beberapa bulan yang lalu Helen pernah mengirimkan sebuah surat kepadaku. Surat yang hanya mencantumkan tulisan tentangnya yang telah lulus sekolah menengah. Hampir enam tahun ia pergi dan kabar yang kudengar darinya hanya sekali itu. Aku tidak pernah sempat membalas surat itu.

“Kakak sedang menunggu seseorang?”
Lagi-lagi, kata-kata gadis di sampingku ini menyadarkanku dari lamunan. Aku mengangguk.

“Siapa?”

Aku terdiam. Ya. Siapa yang aku tunggu? Apakah aku mengenalnya? Mungkin aku mengenalnya, dulu, tapi tampaknya semua itu hanya mimpi, hanya khayalan yang biasa mengisi pikiran di siang hari. Aku menghembuskan nafas panjang; gadis kecil itu menatapku ketakutan, takut telah mengatakan sesuatu yang menyinggungku. Aku tersenyum untuk menenangkannya. Tak lama kemudian ia sudah tersenyum kembali.

Selanjutnya kami hanya duduk diam. Aku, pria berusia dua puluh tiga, celana jeans, dan kaus tangan hitam-putih, bersama dengan gadis kecil yang duduk mengayun-ayunkan kakinya. Hal yang tidak wajar sebetulnya, karena seharusnya aku berada bersama orang-orang seumuranku dan ia dengan anak-anak lainnya. Tapi tampaknya persamaan telah mempersatukan kami berdua.

Beberapa menit kemudian, pedagang roti yang tadi datang lagi, dan gadis itu menghampirinya untuk membeli roti. Pedagang itu juga menawarkan rotinya kepadaku, tapi aku hanya menggeleng. Aku sedang tidak bernafsu untuk mengisi perutku.

Pedagang itu kemudian mengayuh sepedanya pergi. Ingatanku kembali kepada dirimu. Ya, aku ingat sekarang. Kau adalah perempuan cantik, ya. Kau adalah orang yang pernah mengisi hidupku. Aku teringat lagi saat kita berada di café. Dua anak muda, diselimuti cinta, duduk berseberangan di café sambil meminum kopi cokelat dingin, mengobrol tentang hidup. Obrolan yang terasa begitu nyata, begitu menyenangkan, begitu… hidup.

Gadis kecil di sebelahku memotong kecil-kecil rotinya dan menaburkannya di tanah. Tujuannya menjadi jelas tak lama setelahnya; burung-burung gereja turun dan menikmati pemberian dari gadis baik hati itu.

Waktu itu, kau bertanya padaku apa pandanganku terhadap masa depan. Aku berkata masa depan adalah tujuan, obyektif—target yang harus kita penuhi. Kemudian aku balik menanyakan pertanyaan yang sama. Kau bilang, waktu itu, masa depan bagimu adalah kebahagiaan. Jawaban yang membuat kita berdua sama-sama terpuaskan.

Gadis itu bersenandung sambil memperhatikan hasil perbuatannya tadi. Ketika potongan-potongan roti yang ada di tanah sudah hampir habis, ia memotong-motong rotinya lagi dan kali ini menaruhnya di telapaknya. Ia menaruh telapak tangannya dekat dengan tanah sehingga memungkinkan burung-burung mungil itu untuk melahapnya. Gadis itu tertawa gembira ketika burung-burung gereja itu mulai mematuk-matuk tangannya. Sungguh pemandangan yang indah.

Aku menoleh ke arah menara jam di pusat taman. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dan kau masih belum ada di sini. Aku menatap jam itu satu kali, dua kali, hingga ketiga kalinya untuk memastikan bahwa waktunya benar. Dan ternyata memang ya. Tapi kau tidak ada di sini. Apakah waktu membohongi aku lagi? Apa waktu membohongimu lagi? Apa kau membohongiku lagi?

Aku terhempas kembali ke kursi taman. Waktu sekarang berlalu semakin cepat, seakan Tuhan telah menurunkan tangan-Nya untuk mempercepat laju waktu yang pada kenyataannya sudah sangat sedikit ini. Sepuluh menit berlalu. Tiga puluh menit. Satu jam. Tiga jam. Roti di tangan gadis kecil di sebelahku sudah habis, dan burung-burung gereja itu beterbangan meninggalkan kami berdua di kursi taman kayu yang panjang ini.

Ya. Tampaknya kau dan waktu bekerja sama untuk memperdayaiku. Dan aku lemah. Aku terperdaya. Aku sakit. Aku teringat kembali kenangan-kenangan yang dulu pernah kau berikan kepadaku, yang sekarang menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah semua itu nyata?

Lagi-lagi, kekecewaan. Seperti yang sudah-sudah. Tapi sejujurnya, aku tak heran. Mengapa? Karena aku tahu kau akan melupakan aku. Aku tahu kau akan meninggalkan aku bersama dengan segala kata-katamu tentang masa depan itu. Tapi kenapa, walaupun aku tahu semua itu, aku masih menunggumu? Kenapa, setelah semua itu, aku rela datang dua jam lebih awal untuk menantimu? Saat ini, aku tak punya jawabnya.

Sekarang tinggal ada aku, sang penunggu lemah yang terperdaya, duduk di taman bersama seorang gadis yang cerianya seolah-olah tak akan pernah bisa terhapus. Seandainya hidupku seindah kehidupannya. Tapi takdir membawaku ke sini, dan aku tak bisa melakukan apapun kecuali menjadi kuat dan menjalaninya.

Sudah lima jam berlalu dari waktu yang kau janjikan. Gadis itu meminta izin padaku untuk pulang. Aku mengucapkan terima kasih, yang dibalasnya dengan sebuah kecupan di pipiku dan ucapan jangan menyerah yang ia bisikkan di telingaku. Ia kemudian berlari meninggalkanku, membiarkan rambut panjangnya terlempar kesana-kemari selama ia menjauh. Hatiku sedih.

Saat itu, aku memutuskan akan menyusul Helen ke Ohio. Dan saat itu, aku bangkit dari kursi taman itu. Tak pernah kembali lagi.

JEJAK TUBUH karya Fannie Yulandari

Desember 11, 2009

Prakata : Cerpen ini kiriman dari Fannie Yulandari (namanya mirip nih). Setelah saya baca-baca, kayaknya ini bukan cerpen deh. Mungkin semacam prosa. Tapi secara keseluruhan, dari sisi bahasa, penggunaan tanda baca, huruf besar,dll sudah oke.

Saran saya buat Fannie :
Sebenarnya kalau kamu mau buat prosa ini menjadi cerpen bisa saja kok. Tinggal menambah konflik dan perjelas para tokohnya. Keliatannya kamu punya bakat menulis karya sastra yang lebih berat. Bukan sekedar cerpen ala chicklit/teenlit. Perlu dikembangkan dan diasah. Saran saya, kamu pelajari cerpen-cerpen di Harian Kompas Minggu dan Majalah Horison.

Well, para murid tercinta, mari kita simak tulisan Fannie Yulandari.

Aku benci melihat alur jejak orang lain di tubuhmu.

“Bagaimana kau bisa melihatnya?” tanyamu.

Bagaimana bisa aku tak melihatnya? Jejak itu tertera jelas di mataku. Tidak, itu bukan jejak diriku yang haus jelajahi tubuhmu. Melainkan alur tertinggalkan oleh sosok asing. Partikel diriku musnah tertindas renik sesuatu yang lain. Keberadaannya lahap rindu tumbuh terlambat. Jejakku belum lagi mendingin ketika kau sambut kehangatan lain. Sementara beku masih mencengkramku erat. Tak ada kau yang nyalakan gairah demikian panas.

Aku benci mencium aroma asing di tubuhmu.

“Wangi apa yang kau cium?” tanyamu.

Bukan aroma cinta kita yang kuhirup dari tubuhmu. Melainkan jarak begitu pekat. Terasa kepahitan akan waktu berbeda yang pisahkan kita. Saat ini hanya kucium sayup wangi keberadaan asing. Tak ada lagi gelora nafas berpadu hantarkan perpenuhan. Hanya samar euforia tertinggal. Bersama dekap asa yang terpisah. Masa terlewat begitu cepat, tenggelamkan kau dalam wangi berbeda yang tak kusuka. Dan aku masih saja mencari sisa keharuman tubuhmu dalam mimpiku.

Aku benci mengecap rasa yang lain di tubuhmu.

”Rasa apa yang kau rindu?” tanyamu.

Tidakkah kau rasa kesemuan mengambang di udara setelah usai percintaanmu? Tidakkah kau rindu manis percampuran kau dan aku? Kala tubuh kita masih menari, rasa dirimu adalah ambrosia pemacu hasrat. Berebut kuasai benak dengan berbagai sensasi menghanyutkan. Namun hanya getir yang kusesap keberadaannya kini. Masih dapatkah kau kecap rasa diriku, ketika beragam rasa berlomba serbu inderamu?

Aku benci merasakan sentuhan tak bermakna.

”Makna apa yang kau cari?” tanyamu.

Keterikatan kita sudah lerai. Namun makna masih mengendap dalam jiwa. Kusimpan baik-baik fragmen kisah kita. Kini ia sudah reda memagut keberadaan. Namun lembut belaimu tetap terkenang. Menjadi peneman sepi kala lelap sendiri. Tak lagi kau tinggalkan lekuk di bantal di sampingku. Pun kecupan sarat oleh cinta. Hanya ada deretan kenikmatan kosong yang kau kejar tak tentu arah. Sungguh, kekosongan ini tak akan bisa terpenuhi.

Aku benci melihat tatapan tak berjiwa.

”Jiwa siapa yang ingin kau lihat?” tanyamu.

Bukankah dulu dapat kulihat pantulan jiwamu? Berkilau lembut dalam binar matamu. Terjerat aku dalam pesonanya. Pandangan itu selalu temani kebersamaan kita. Bersama hentakan rasa demikian tinggi. Merebut akal dan terbitkan candu. Dalam deras percumbuan, dapatkah kau rasa jiwa kita bercinta kala tatap berpadu? Getar-getar indah merasuk kalbu. Sekarang jiwa siapa yang tercermin di matamu, ketika kau hanyut dalam episode-episode sesaatmu. Aku merindu jiwamu, tahukah kau?

Aku benci terperangkap di antara setengah.

”Lalu apa yang kau mau?” tanyamu.

Tak ada. Karena usai telah miliki kita.

”Tapi aku masih mencintaimu.” katamu.

Ya.
Bukankah kau bilang aku memiliki hatimu, bukan tubuhmu.
Lalu apa arti cinta itu?

(28 Desember 2007 – 01.59 PM)

</span

BEDAH CERPEN KARYA LOVELI ONELIA

Desember 7, 2009

Setelah memosting cerpen karya Loveli Onelia, kini saatnya membedah cerpen tersebut. Yuk simak, apa saja yang perlu diperbaiki dari cerpen tersebut!

Jujur, saya rada bingung ketika membaca cerpen ini, karena :

1.adanya tokoh Mutia dan Luna. Padahal, setelah membaca sampai habis, saya hanya menemukan dua tokoh. Luna dan Leo. Mungkin, penulis salah nulis namanya. Mau menulis Luna, ditulis Mutia. Atau, mungkin juga semula berniat memakai nama Mutia, lalu diganti menjadi Luna. Seharusnya, setelah cerpen selesai dibuat, dibaca ulang dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan seperti ini.

2.Lagi-lagi masalah tanda baca yang sering salah pemakaiannya. Saya tidak menjelaskan lebih lanjut karena bisa dipelajari dari postingan sebelumnya mengenai penggunaaan tanda baca. Untuk mengetahui penggunaan tanda baca, alangkah baiknya calon penulis sering membaca karya orang lain. Lagipula, waktu sekolah sudah pernah diajarkan mengenai penggunaan tanda baca.

3.Penggunaan huruf besar. Setiap nama orang harus menggunakan huruf besar. Hal sepele seperti ini tidak boleh dilupakan. Ini adalah dasar dari ilmu menulis.

4.dalam cerpen ini ada kalimat sbb :
Ditambah lagi dengan temannya yang selalu ingin menyakiti perasaan Luna. Ia merasa sudah tidak ada lagi cinta didalam kehidupanya. Cinta teman, orangtua, sahabat, maupun kekasih, semua lenyap didalam kesedihanya. Yang ia dapatkan hanyalah kesedihan, kemarahan, dan kebencian.

Dari kalimat itu, kita tahu Luna tidak pernah merasakan cinta. Tetapi, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Pembaca hanya bisa menebak-nebak. Seharusnya, diceritakan sedikit apa yang melenyapkan cinta dari teman,orang tua dan sahabat serta kekasih Luna? Apakah Luna pernah patah hati? Dikecewakan teman dan sahabatnya? Apakah ortunya tidak memerhatikan dia?

Oke, Loveli….kamu sudah tahu kan apa kelemahan di cerpenmu? Saya tunggu cerpen kamu berikutnya lho. Jangan bosan berlatih menulis dan banyak membaca cerpen karya penulis lain ya.

</span

Di Persahabatan Kutemukan Arti Cinta, Oleh : loveli onelia

November 25, 2009

Prakata : berikut ini adalah cerpen yang dikirim oleh Loveli Onelia. Sudah saya rubah sedikit terutama di bagian tanda baca dan pemakaian huruf besar. Inti cerita tidak dirubah. Dalam postingan berikut, akan saya uraikan saran dan kritik untuk cerpen ini.

Saat melihat tajam wajah langit yang berhiaskan bulan dan bintang disanalah terdapat secercah harapan bagi seorang gadis yang berdiri didekat jendela sembari menikmati indah dan sejuknya malam hari. Keadaan itulah yang mungkin akan menghapuskan sejenak dari liku-liku kehidupannya.

Bagi dia kehidupan yang sedang ia hadapi adalah kehidupan yang sangat membosankan, karena kehidupan yang ia jalani dari hari ke hari tak ada perubahan. Dia bingung apalagi yang harus ia jalani untuk mengisi kehidupanya yang kosong itu, entahlah mungkin hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Hari berjalan seperti biasanya. Seseorang bangun untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Begitu pula dengan Luna. Dia bangun dari tidurnya untuk menjalankan aktivitas yang membosankan itu. Seperti biasa dia berangkat ke sekolah dengan diiringi suara keributan didalam rumahnya. Suasana penuh kebencian dan kemarahan hampir setiap pagi ia rasakan. Sesampai disekolah ia pun mengikuti berbagai macam mata pelajaran, berbagai macam materi pun ia dapatkan dan membuat otaknya rasanya ingin pecah. Ditambah lagi dengan temannya yang selalu ingin menyakiti perasaan Luna. Ia merasa sudah tidak ada lagi cinta didalam kehidupanya. Cinta teman, orangtua, sahabat, maupun kekasih, semua lenyap didalam kesedihanya. Yang ia dapatkan hanyalah kesedihan, kemarahan, dan kebencian. Apalagi kalau urusan percintaan, Luna tidak pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Ia hanya dapat melihat orang yang jatuh cinta tetapi sebenarnya ia tidak pernah merasakannya.

Hari terus berjalan. Saat Mutia ingin masuk ke dalam kelas, tak sengaja seorang cowok yang berwajah oriental dengan postur tubuh yang tinggi besar menabrak Mutia yang sedang asyik membaca buku.

“Eh, kamu punya mata gak sih……..?” Tegur Mutia, penuh emosi.

“Sorry, aku gak sengaja.” “Lain kali kalau jalan pake mata.”

“Ya, maaf. O ya, kita belum berkenalan. Namaku Leo.” Cowok itu mengulurkan tangannya.

“Luna. Nice to meet you.”

“Nice to meet you.”

Hari tak berjalan begitu lama. Leo terus mengejar dan berusaha mendekati Luna, karena Leo sangat penasaran dengan sikap luna yang selalu cuek dan tidak pernah memperdulikan orang yang ada disekitarnya. Walaupun Leo sering tidak di pedulikan oleh Luna, tetapi Leo terus berusaha untuk menjadi teman Luna.

Hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya Luna pergi berolahraga Berkeliling perumahan untuk menyegarkan tubuh. Tak lupa ia pun selalu ditemani anjing putih kesayanganya yang selalu menemaninya. Tak terasa jam telah menunjukan pukul 07.00 kini saatnya kembali pulang kerumah. Saat perjalanan pulang kerumah, Luna di hadang oleh 5 orang preman dan kebetulan Leo yang sedang berada disana.

Leo pun menolong Luna yang sedang diganggu oleh preman tersebut. Dengan jantannya Leo menghadapi preman itu meskipun agak sedikit takut, tetapi ia berusaha untuk memberanikan diri. Untunglah preman itu lekas pergi jika tidak matilah riwayat Leo. Akan tetapi setelah preman itu pergi Luna hanya mengucapkan terima kasih dan langsung pergi tanpa memperdulikan Leo yang sedang terluka lantaran menghadapi preman tadi.

Tetapi Leo tak peduli dengan lukanya. Dia langsung mengejar Luna untuk meminta penjelasan mengapa dia selalu cuek terhadap Leo.

“Eh kamu gak tau diri banget sih !” Kata Leo melampiaskan amarahnya

“Eh, gua kan dah bilang makasi ke elo, memang itu belum cukup apa?”

“Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu selalu cuek sama aku dan kenapa kamu gak mau temenan sama aku? Apa kamu udah gak punya cinta?”

“Apaan sih? Kamu gak usah ikut campur sama urusan aku!”

“Aku gak nyangka cewek secantik kamu takut dengan kehidupan, dan kenapa kamu selalu menghindar dari semua orang yang sayang sama kamu?”

“Karena aku benci dengan cinta, puas kamu?” Ujar Luna sembari meninggalkan Leo.

Sejak kejadian itu hubungan Luna dan Leo semakin jauh, seperti terhalang oleh tembok yang sangat besar. Tak seperti biasanya, Leo yang semula sangat antusias untuk menjadi teman Luna, kini menjadi tidak ingin berhubungan dengan Luna. Demikian pula dengan Luna, Luna kini menjadi semakin membenci Leo melebihi kebenciaannya yang dahulu. Entahlah apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.

Dua bulan telah berlalu. Saat pelajaran kimia dimulai, Luna dan murid-murid yang lain langsung memasuki ruang laboratorium untuk melakukan praktek kimia. Berbagai macam instruksi telah diberikan oleh bapak ibu guru, bagaimana cara penggunaan alat-alat laboratorium. Akan tetapi saat guru pergi meninggalkan ruang laboratorium, murid-murid menjadi rame. Sampai akhirnya salah satu teman Luna tidak sengaja menyenggol lilin yang berada disampingnya hingga terjatuh dan mengenai cairan kimia. Kebakaran pun akhirnya terjadi. Semua siswa langsung pergi keluar untuk menyelamatkan diri, akan tetapi Leo yang dari tadi mencari-cari Luna, tidak kunjung menemukanya. Leo pun yakin Luna masih terjebak didalam ruang tersebut lalu. Dengan secepat kilat Leo pun masuk kedalam untuk mencari Luna.

Asap tebal dan panasnya api tak menyurutkan hati Leo untuk mencari Luna. Terlihat di balik lemari, Luna sedang bersembunyi dari ganasnya si jago merah. Dengan nafas yang tersenggal-senggal Leo mengajak Luna untuk meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi setelah mereka berdua keluar, Leo merasa tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya akhirnya pun Leo jatuh dan tak sadarkan diri.

Setelah Leo membuka matanya, dia tak menyangka bahwa yang berada disampingya adalah Luna yang dengan setia menunngu Leo. Dengan rasa bersalah Luna berbicara pada Leo untuk minta maaf.

“Leo, maafin aku ya!”

“Ya gak apa-apa kok.” “Maafin aku ya kalau aku selama ini aku benci sama kamu.”

“Ga papa, aku sudah maafin kamu kok tapi kamu harus tau arti cinta yang sesungguhnya adalah menerima apa adanya dan cinta bukan hanya dengan kekasih tetapi bisa dengan apa aja. Aku yakin kamu pasti punya cinta didalam hidup kamu.” Leo tersenyum memandang Luna.

“Sahabat.” Leo mengulurkan tangan pada Luna “Ya, you’re my best friend.” Luna tersenyum bahagia

Sejak saat itu Luna selalu memikirkan kata-kata Leo. Kata-kata yang singkat tetapi penuh makna. Luna berfikir apa yang dikatakan Leo memang benar dan kini ia menjadi sadar kalau dia butuh cinta didalam kehidupannya. Dia tidak bisa menghindar dari cinta dan walaupun Luna belum mendapatkan cinta seorang kekasih dan hangatnya keluarga tetapi ia menemukan dan mendapatkan cinta dari sebuah persahabatan. Luna pun kini merasa yakin bahwa ia tidak harus benci kepada cinta.

CANTUMKAN NOREK

November 10, 2009

Tulisan ini saya buat khusus untuk menjawab pertanyaan murid- murid mengenai pencantuman norek setiap kali kita mengirim cerpen ke media cetak. Sudah ada 2 orang murid yang bertanya, apakah tidak berbahaya mencantumkan norek.

Tentu saja tidak. Toh, yang kita kirim cuma norek bukan nomor pin kartu ATM. Lagipula, reputasi media cetak kan harus dipertahankan. Masa mau berbuat yang macam-macam dengan norek kita.

Saya sudah bertahun-tahun nulis cerpen dan setiap kali ngirim cerpen pasti mencantumkan norek. Tujuannya, agar honor bisa ditransfer dengan cepat. Jadi, gak usah takut. Cantumkan saja.

Kan enggak mungkin juga kalau kamu datang ke kantor redaksi untuk ambil honor. Kayaknya udah gak jamannya deh. Selain ngabisin ongkos jalan, juga gak praktis. Rasanya, semua kantor media cetak sudah menggunakan sistem pembayaran transfer. Kalo dulu, memang disuruh ambil honor sendiri ke kantor redaksi.

Biasanya, mereka suka telpon dan meminta konfirmasi dari kita mengenai kebenaran norek tsb. Usahakan mencantumkan norek atas namamu sendiri ya. Biar gak bikin repot mereka.

</span

IDE MENULIS DARI MASALAHMU

November 3, 2009

Akhir-akhir ini saya lumayan stress menghadapi papa yang sedang sakit. Kalau orang lain stress, biasanya jadi doyan makan atau marah-marah. Saya malah jadi gila menulis. Kemarin saja sudah menulis 4 artikel untuk blog Sang Cerpenis. Semuanya untuk postingan terjadwal sih. Tapi, saya jadi kaget sendiri. Lho…banyak amat? Kenapa jadi banyak ide gini?

Hmm, siapa bilang mencari ide sulit? Bahkan, lagi stress pun kita bisa dapatin ide, seperti ide tulisan ini. Tiba-tiba saja muncul saat lagi stress. Padahal, saya sempat bingung mau kasih pelajaran apa lagi nih untuk para murid. Ha ha ha…

Well, menulis itu memang menyenangkan, bukan? Kalian bisa meramu sebuah tulisan dari kesedihan, kebingungan kalian. Jadi, enggak usah bingung kalo kehabisan ide. Coba gali lagi masalah apa yang pernah kalian hadapi? Masalah di masa lalu? Masalah yang sedang digeluti saat ini? Masalah yang akan datang yang sedang kalian cemaskan?

Mengapa semua masalah itu enggak dijadikan sebuah ide tulisan?

Tidak harus sama persis dengan masalah yang kalian hadapi, tapi bisa dibumbui. Bahkan, bisa ditambahkan cara penyelesaiannya. Tentu saja cara penyelesaian yang kalian impikan tapi dalam kenyataannya sulit dilaksanakan. Nah, dengan menuliskannya secara enggak lalngsung sudah mengobati perasaan sedih dan stress. Karena ketika kita menulis, semua yang mengganjal tercurah keluar. Plong deh jadinya. Sukur-sukur, tulisan itu bisa berbentuk cerpen. Kalo toh enggak berbentuk cerpen, kan bisa jadi diary. Anggap saja, sedang latihan mengungkapkan perasaan lewat tulisan.

So, mari menulis masalah yang sedang kamu hadapi. Bisa ‘kan?

</span

WAJIB DIMILIKI PENULIS

Oktober 20, 2009

Kalo kamu serius mau menekuni bidang menulis. Menulis apa aja deh. Entah itu cerpen, puisi, artikel-artikel serius, berita, dll. Maka, kamu kudu wajib punya kamus, terutama kamus Bahasa Inggris, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia.

Akan lebih bagus lagi kalo kamu punya Kamus Idiom/ungkapan dalam bahasa Inggris, kamus peribahasa Indonesia dan beberapa kamus bahasa daerah.

Semua ini untuk memudahkan kamu mencari kata-kata yang bervariasi saat menulis. Termasuk membantu kamu saat kebingungan mencari kata-kata yang tepat. Selain itu, kalo kamu ragu akan arti sebuah kata, kamu juga bisa mencarinya di kamus. Melihat apa sih arti dari kata itu. Apa sinonimnya, dll.

Btw, saya mau tunjukin beberapa kamus yang saya miliki dan…kalo kamu mau, kamu bisa beli kamus serupa.

Yang saya tunjukkan hanya beberapa kamus penting. Masih ada lagi kamus-kamus lainnya tapi saya malas mengeluarkannya dari lemari buku.