GARA-GARA CONTEKAN (Oleh: ANAZKIA)

KATA PENGANTAR : Cerpen ini dikirimkan oleh Anazkia ke email saya beberapa waktu yang lalu. Setelah saya baca, banyak sekali yang mesti diedit dan diperbaiki. Tetapi, saya tetap memosting cerpen ini di blog Graha Sastra karena saya ingin Anazkia mempelajari bagian mana saja yang saya edit dan revisi. Bukan saja kalimat yang harus diperbaiki tetapi juga tanda baca dan penulisan awalan DI dan KE.

Kalau boleh jujur, saya harus bekerja keras untuk merevisi cerpen ini. Tetapi…saya sangat menghargai usaha Anaz untuk membuat cerpen dan mengirimkannya kepada saya.

Sunyi, masing-masing berfikir dan berbicara sesama sendiri. Memeras otak, mengingat dan mengulang segala yang telah dibaca dan dihafal. Soal ujian dan kertas jawaban tergeletak berdekatan dengan pena di atas meja. Semuanya khusuk menelaah, mencari dan menulis jawaban.

Sesekali kulirik teman sebangkuku. Aku lihat, dia enjoy aja. Tidak gelisah seperti aku, juga tidak tampak risaua. Aku baru mengenalnya kemarin. Dia adik kelasku. Sang Juara Umum di setiap semester. Di saat ujian seperti ini kami memang duduk menurut absen dan tidak selalu dengan teman satu kelas.

Guru pendamping keluar. Kesempatan nih untuk bertanya kepada Asma yang duduk di belakangku. Aku memang tidak pandai dalam pelajaran kimia. Jangankan belajar, membaca bukunya saja aku sudah tidak paham. Mumpung ada jagonya di ruangan ini, akupun mencoba ambil kesempatan.

“Ssssttt… Asma!” Bisikku. Tak ada reaksi. Asma tetap menunduk.
“Asma!.” Aku kembali memanggilnya, pelan. Asma hanya mengangkat muka.
“Rumus persenyawaan, gimana?.”
“Nomor berapa?” Halah, ini sih pertanyaan basa-basi. Jawab aja kenapa sih. Aku menggerutu dalam hati.
“Tuh, nomor 41 yang essay…”
“Gak tahu, aku belum sampai situ.” Jawab Asma tak acuh. Uf! Lengkap sudah penderitaanku. Buntu! Benar-benar buntu. Asma memang terkenal pelit. Hukum orang pinter memang begitu, kali. Kayaknya, aku jarang banget ketemu orang pinter yang enggak pelit kasih contekan.

“Ugh….,” Aku mengeluh.
“Kenapa Lia?.” Suara Pak Dody tiba-tiba memecah hening.
“Enggak, Pak. Anu…. cuma mau pinjem pulpen.” Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala yang memang tidak gatal.
“Pinjem pulpen, atau isi pulpen?” Pertanyaan yang mengandung dua arti. Malu aku di buatnya.
“Nih, Bapak ada pulpen lebih.” Pak Dody meletakkan pulpen di atas meja. Kemudian berlalu pergi.

Setelah Pak Dody menjauh, aku kembali memohon kepada Asma untuk memberikan rumus persenyawaan kimia. Tapi, hasilnya tetap nihil. Dia masih menggelengkan kepala. Kesal menghadapi sikapnya, aku diam. Berpikir sendiri, kembali mengingat dan mengingat. Meskipun hasilnya aku gak yakin.

“Lia, kenapa gak pake pulpen Bapak? ” Suara Pak Dody membuat jantungku berdetak kencang. Heran deh, pak Dody ini sebentar pergi sebentar datang. Sekarang, tiba-tiba sudah muncul lagi di depan mejaku.

“Boleh bapak ambil lagi pulpennya?” tanya pak Dody

“Silakan, pak.” Malu-malu aku menyerahkan pulpennya.

Mimpi apa aku semalam, dipermalukan di depan kelas. Ruangan tiba-tiba berisik dengan cekikikan yang ditahan. Kulirik lagi adik kelasku, masih khusuk memandang ke bawah, tepatnya di laci meja. Catatan-catatan panjang bergulung-gulung di situ. Dengan cermat dan teliti, dia membaca satu persatu kertas dan menuangkannya ke dalam kertas jawaban. Astaga! Dia bawa contekan.
*******
Waktu istirahat kujadikan kesempatan untuk sembunyi di perpustakaan. Membuka kembali catatan-catatan yang aku tulis dengan terpaksa dan tak jarang juga dengan mata tidak terbuka. Hasilnya, ibarat meletakkan cacing di bawah terik matahari. Catatan yang tidak rapi, di tambah dengan buruknya tulisanku. Lengkap sudah penderitaan ini.

Entah kenapa aku benar-benar tidak suka dengan semua pelajaran ilmu pengetahuan alam. Entah itu Biologi, Fisika, apalagi Kimia. Pokoknya, bawaannya bete melulu. Tapi, kupaksakan diri mengikuti gerak dan alur cacing kepanasan dalam buku catatanku. Siapa tahu, kali ini aku beruntung, meskipun sambil menghitung kancing baju untuk memberikan jawaban atas soal Pilihan Ganda. Dan, jurus terakhir untuk essay adalah pasrah, atau kosong tanpa jawaban.

“Lia! Kamu gak ke kantin?.”
“Enggak ah, males.”
“Ke kantin yuk! Temenin aku.” Naila duduk disampingku.

“Enggak ah, La. Males aku. Nih lihat, sudah tulisanku kayak cacing kepanasan. Catatan ku gak lengkap pula.” Aku mengeluh.

“Eh Lia, jangan mengeluh terus dong. Nyantai aja. Aku juga belum belajar.”

“Iya, kamu kan otaknya encer. Sementara aku? Lemot nih.”

“Astagfirullahaladzim… Lia, kok kamu ngomong gitu sih? Jangan suka memvonis diri sendiri. Nanti, kita tambah gak semangat belajar.”

“Abis, aku cape La. Setiap semester aku pasti pusing gini. Udah gitu, tuntutan dari orang tua untuk aku selalu mendapat ranking juga menambah beban.” Aku curhat. Lari semua yang ada di kepalaku, bayangan cacing yang kepanasan juga sepertinya sudah pingsan.

“Lia, kita hanya mampu berdo’a dan berusaha. Sedangkan, tawakal kita serahkan semuanya pada Allah. Tapi, apakah kita sudah yakin dengan do’a dan usaha kita? Eh, kok aku jadi ceramah gini sih?. Udah akh. Aku lapar nih. Kamu mau ikut ke kantin gak?.” Naila kembali meneruskan hasratnya untuk mengisi perut.

“Ogah La, aku udah makan tadi pagi. Eh, La …..aku mau ngomong sedikit.” Aku menarik tangan Naila.

“Apaan sih? Nanti keburu masuk lagi tahu!” Naila cemberut.

“Sebentar aja. Eh, kamu tahu gak juara umum kelas satu tahun kemarin?.”

“Latifah? Memang kenapa?”

“Kayaknya, dia nyontek deh setiap kali ulangan.” Aku mengecilkan volume suaraku, menengok kanan kiri.

“Kamu nih… Jangan nuduh gitu. Kamu juga nyontek khan…???.” Naila meledek.
“Yah, aku sih sebatas nanya teman aja, gak pernah bawa-bawa catatan kayak dia.” Aku membela diri.

“Yah, itu sama aja. Artinya nyontek juga. Dan jangan menuduh yang enggak-enggak. Nanti dia dengar lho. Kata teman-teman, dia tuh galak kalo lagi marah.” Naila meletakkan satu jarinya di depan mulut. “Sudahlah, aku mau ke kantin nih. Bentar lagi masuk.” Naila melirik jam tangannya.

“Yah, nasib! Gara-gara kamu, aku gak jadi pergi kekantin.”

“Napa, La?” Aku bertanya bodoh. Tiba-tiba, lagu Selamat Ulang tahun sebagai tanda istirahat sudah selesai mengalun di seluruh ruangan. Muka Naila berkerut-kerut cemberut. Aku jadi merasa bersalah, sementara buku catatan yang kubaca pun tak satupun yang masuk ke kepala.

“Sorry La. Kamu belum makan, ya?” Aku dan Naila jalan beriringan menuju ke kelas masing-masing yang kebetulan arahnya sama.

“Belum.” Mukannya memelas. Aku semakin merasa bersalah.

“Maaf deh, La. Tapi, di tasku ada roti. Air minum juga ada. Kamu ambil ya?”

“Makasih. Tapi, tadi pagi aku sudah makan roti.” Naila nyengir sambil masuk ke kelasnya. Huh, ngeselin juga nih anak. Tapi, aku selalu terhibur kalau ada di dekat dia.
********
Aku tidak bisa konsentrasi mengerjakan soal ulangan. Pikiranku terfokus kepada adik kelasku. Aku jadi suka memperhatikan dan menyelidikinya. Sepertinya, dugaanku benar. Latifa, sang juara umum itu benar-benar suka nyontek. Sering membawa kertas contekan. Bahkan, membuat catatan-catatan kecil di telapak angannya. Aku hampir tidak percaya. Betulkah apa yang aku lihat?

Ah, kalau memang iya. Sungguh kasihan Marwati, tetanggaku. Dia sekelas dengan Latifah. Anaknya cukup pandai, tekun dan gigih. Tidak suka mencontek seperti Latifah dan tidak malas seperti aku. Kalau Latifah ketahuan mencontek, tentunya beasiswa akan jatuh kepada Marwati. Sungguh tidak adil.

Sampai di rumah, aku masih memikirkan tentang menyontek. Meskipun dalam skala kecil, sebenarnya aku juga masih suka nyontek saat ulangan. Nyontek sama teman, tapi tidak sampai membawa catatan atau mencatat di tangan seperti yang Latifah buat. Tapi, apa bedanya? Toh sama-sama nyontek.

Malamnya, aku betul-betul belajar. Melihat dan mengingat juga sesekali menghafal. Kebetulan giliran mempelajari pelajaran yang aku suka, semuanya terasa ringan. Aku mempelajarinya tanpa paksaaan. Otakku terasa lebih cepat menangkap apa yang kubaca. ***********

Seperti biasa, suasana kelas sangat tegang saat ulangan semester. Aku membaca dengan teliti soal demi soal. Heran, sungguh heran dengan otakku. Meskipun aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga saat belajar. Tetap saja hasilnya nihil. Aku tetap kehilangan kata demi kata yang aku hafal semalam. Ah, aku menyerah kalah. KulihatLatifah masih asik menjawab soal ulangan. Aku belum melihat ia menyontek baik dari kertas catatan maupun dari catatan kecil di telapak tangannya.

“Kenapa, teh?” Sadar diperhatikan, dia mengangkat kepalanya. Menatapku. Tertegun aku dibuatnya.

“Enggak, gak apa-apa. Kamu sudah selesai ngerjain soal?”
“Belum, the. Masih soal pilihan ganda. Teteh sudah?”
“Belum juga. Lupa nih…” Aku nyengir. Suasana kembali hening.

Aku kembali menekuni soal ulangan. Ada yang bisa kukerjakan. Tapi, lebih banyak yang tidak bisa kukerjakan. Aku malah lebih banyak menggaruk kepala. Mau bertanya dengan Asma, ogah akh! Pinter sih pinter, tapi gak ketulungan pelitnya.

Aku melirik Latifah. Dia mulai beringsut duduk lebih miring ke kiri. Aku kembali tertarik melihat gelagatnya. Latifah betul-betul serius memperhatikan catatan-catatan kecil yang ada di laci meja. Aku heran, gimana ceritanya kok, dia bisa menyalin jawaban-jawaban itu. Dan, apa iya setiap jawaban yang dia tulis pasti ada dan keluar di soal ujian.

“Fah, lagi ngapain?.” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Sssttt… Saya lihat catatan, teh…” Latifah menjawab sambil menangkupkan tangannya di atas mulut. Jawabannya membuat aku terkejut. Tanpa rasa malu dan tanpa tedeng aling-aling dia mengakui sedang melihat catatan. Heboh nih kalau masuk mading. Batinku.

“Kamu gak takut?.”
“Takut juga, the. Tapi, udah sering sih.” Sungguh di luar dugaan jawabannya.
“Bukannya kamu juara umum kelas satu?.”
“Iya, teh.” Tiba-tiba mukanya memerah. Menunduk malu.
“Lia! Kamu ngapain….???” Suara Pak Marno dari depan kelas. Waduh, apes aku! Kena lagi! Kenal lagi!

“Enggak Pak, lagi ngajarin adik kelas.”

“Ngajarin… atau kamu yang di ajarin?” Duh, penghinaan ini. Kalau saja para guru tahu bahwa juara umum kelas satu adalah tukang contek. Pengen rasanya aku teriak. Tapi, rasanya gak mungkin banget. Ah…. sabar…sabar…
*********

Tergesa-gesa aku menuju kelas 2 IPA 1. Pagi ini, ruang kelas diawasi oleh pak Munir. Pengawas paling kiler. Teman-teman banyak yang takut dengan gayanya ketika beliau menjadi pengawas. Tak bisa berkutik sedikitpun, tidak bisa menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku juga terkadang kesal dengan gaya sok kilernya beliau.

Hanya beberapa menit aku sampai, lagu selamat ulang tahun kembali mendengung di seluruh ruangan. Aku segera meletakan tas di depan kelas di ikuti oleh beberapa teman-teman lainnya. Segera aku duduk manis seperti anak TK yang menunggu dikasih jatah sarapan pagi. Aku tidak mau merusakan imej seperti hari-hari kemarin. Ditegur oleh dua orang pengawas. Sementara, Latifah dengan tenangnya meletakkan pantatnya di bangku. Kembali tangannya mengeluarkan catatan-catatan kecil, memasukannya dengan rapi ke dalam laci. Sungguh! Aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat tingkahnya.

“Oke.. anak-anak, seperti biasa isi dulu nama dan nomor semester, kemudian baru mengerjakan soal. Kerjakan yang kalian anggap paling mudah, baru yang sulit. Tidak ada contek-mencontek atau tanya kiri kanan. Paham?” Suaranya memecah kesunyian pagi dalam kelas.

“Pahaammm…!!!” Koor kami seolah enggan menyela kata-kata Pak Munir.
Dengan tekun kubaca soal-soal ulangan. Aku terus berpikir. Rasanya, memang tidak begitu sulit untuk soal-soal kali ini. Tidak ada soalan jebakan seperti biasanya. Aku lega. Tidak sia-sia aku bergadang. Menggunakan Sistem Kebut Semalam.

Suasana kelas bener-benar hening. Hanya suara gesekan lembar-lembar kertas saat di bolak-balik. Bau kertas menyengat hidung. Kalau saja ini pelajaran Matematika atau Kimia, tentunya aku sudah hampir muntah dibuatnya.

Aku melirik gelagat adik kelasku. Betul-betul diluar dugaan. Untuk soal PPKN yang cenderung mudah saja, Latifah masih menyontek. Aku sungguh heran dengan kelakuan anak ini. Sepertinya, menyontek sudah menjadi candu. Ingin rasanya aku melaporkan perbuatannya kepada pengawas. Tapi, aku tidak punya keberanian.

Pak Munir meninggalkan kelas. Seketika, kelas ribut. Masing-masing mengambil kesempatan untuk bertanya kepada teman sekelas atau berharap kepada kakak kelasnya. Aku tidak ambil kesempatan, toh sama saja bertanya atau tidak. Aku kembali melirik Latifah. Begitu tenangnya, dia mengeluarkan catatan kecilnya. Merunut satu demi satu jawaban-jawaban yang dia tulis. Aku benar-benar heran. Halaah…! Kok, bisa-bisanya gitu lho. Kayaknya, semua yang dia tulis keluar semua dalam soal.

“Ifah, ngapain?.” Tanyaku.
“Biasa, teh…” Latifa tersenyum.

Huh, betul-betul menyebalkan nih anak. Muka tembok. Gak tahu malu! Aku semakin dongkol.

“Siapa yang sudah selesai, harap bawa ke depan.” Suara Pak Munir tegas dan lugas. Aku melirik jam di tangan. Masih ada waktu lagi sekitar tigapuluh menit. Lumayan, bisa memeriksa ulang jawabanku nih. Hanya beberapa soal pilihan ganda yang kuanggap keliru jawabannya. Aku kembali menekuni beberapa nomor. Sementara, beberapa teman-teman sudah mulai maju ke depan memberikan lembar jawabannya.
Tak lama, aku pun segera beranjak meninggalkan kelas. Melepas lelah dan menunggu teman-teman yang belum selesai mengisi jawabannya. Sekilas, kubuka kembali buku-buku catatan. Tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara pak Munir yang tiba-tiba meninggi. Buru-buru aku melongok ke jendela kelas, di ikuti oleh beberapa teman-teman lainnya.

Aku sangat terkejut ketika menyaksikan Pak Munir berdiri dengan angkuhnya tepat di sebelah Latifah yang gemetar dan pucat mukanya sambil memegangi beberapa helai kertas catatannya. Sungguh aku terkejut melihat adegan itu. Rupanya, Allah telah menunjukan siapa yang tak jujur dalam menjawab soal.

Pelan-pelan aku menyingkir dari kelas. Mengingat kata-kata Naila tempo hari, “Lia, kita hanya mampu berdo’a dan berusaha. Sedangkan, tawakal kita serahkan semuanya pada Allah. Tapi, apakah kita sudah yakin dengan do’a dan usaha kita?”

</span

15 Comments »

  1. 1
    nietha Says:

    ini versi yang sudah direvisi mbak??

  2. 2
    buwel Says:

    waaaahhh anaz jago ya buat cerpen…buwel malu neh…😮

  3. 3
    buwel Says:

    Waaaaaaahhh intinya gitu ya, di akhir ceritanya

  4. 4
    Sang Cerpenis bercerita Says:

    @nietha : iya..udah aku revisi. banyak banget. sampai cape nih mata. :@

  5. 5
    anazkia Says:

    Bu Guru, terimakasih dah di muat ;;) duh malu nih… Susah payah bu Guru ngedit. banyak juga yang di benerin. Terutama, penggunaan suku kata. Makasih yah bu guru🙂

  6. 6
    vie_three Says:

    ternyata mbak anaz bisa juga loh bikin cerita, emang siy semua orang bisa ajah bikin cerita tapi penggunaan katanya yg bisa bikin orang memahami isi dari cerita tersebut yg bikin mumet….. hohohoho :@mbak fanny pasti pusing bener ngeditnya :~

  7. 7
    fanny Says:

    @vie : ternyata jadi editor itu cape juga ya. :f

  8. 8
    buwel Says:

    Vie sekarang aktif ya…….Vie ngirim cerpen ke sini juga nggak mbak…?

  9. 9
    Seti@wan Dirgant@Ra Says:

    Jadi malu ,… belon bisa bikin kayak ginian.

  10. 10
    Ansgarius Says:

    Wah mbak sekarang juga menerima cerpen juga ya?

  11. 11
    Sang Cerpenis bercerita Says:

    @ansgarius : iya..tetapi harus diedit dulu ya dan gak semua bisa dimuat.@buwel : vie three belum ngirim nih.

  12. 12
    buwel Says:

    Siiip Jawabannya🙂

  13. 13
    vina febrina Says:

    kalo gitu aku boleh juga dunk mb kirim cerpenku kesini???

  14. 14
    Sang Cerpenis bercerita Says:

    @vina : boleeh

  15. 15
    vina febrina Says:

    ok mb makasih ya mb…nanti aku kirim ya mb…hehehe tp emailnya mb apa mb??heheheh maf aku blm bgtu ngerti soalnya bru prtama kali coba buat cerpen…


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: